Siklus Hidup, Ciri-Ciri & Cara Penyebaran Penyakit Ganoderma

Siklus Hidup Jamur Ganoderma dari Kecil hingga Besar

Siklus Hidup Ganoderma

Ganoderma merupakan penyakit tanaman kelapa sawit yang mematikan. Pada lahan endemik Ganoderma Boninense generasi ketiga 80% tanaman kelapa sawit mati diakibatkan serangan Ganoderma. Penyakit ini terbilang sangat sulit untuk dikendalikan karena sifat patogen (parasit) dan saprotrofiknya yang memungkinkan Ganoderma dapat bertahan hidup pada tunggul-tunggul kayu dan pohon sawit yang sudah mati.

Dalam pengendalian Ganoderma, para praktisi kebun harus mengetahui siklus hidupnya dimana basidiokarp Ganoderma yang sudah dewasa (matang) dapat menghasilkan basidium (basidiospora). Basidiospora ini akan mengeluarkan jutaan spora yang diterbangkan oleh angin. Apabila spora-spora tersebut hinggap di tempat yang cocok, maka spora yang berbeda jenis akan mengalami perkawinan dan menghasilkan spora seksual (spora generatif) kemudian berubah bentuk menjadi filamen-filamen halus yang dikenal sebagai hifa.

Hifa akan bergabung antara satu dengan yang lain untuk membentuk sebuah jaringan benang yang disebut miselium Ganoderma. Miselium akan mengekstraksi enzim untuk menghancurkan senyawa organik yang kompleks pada jaringan akar dan  batang pohon sawit, kemudian diubah menjadi molekul-molekul sederhana untuk pertumbuhannya. Setelah cadangan makanannya terkumpul, maka tubuh buah Ganoderma akan muncul di permukaan batang yang kepalanya berbentuk bulat seperti telur kecil berwarna putih dan lama kelamaan membesar menjadi basidiokarp Ganoderma dewasa (matang dan siap memproduksi basidiospora lagi). Siklus hidup ini akan terus berlanjut apabila rantai makanan Ganoderma masih tetap ada di dalam areal blok pertanaman kelapa sawit.

Jika pohon sudah ditumbuhi basidiokarp, infeksi akan terus menyebar ke seluruh areal pertanaman melalui kontak akar, dibawa oleh angin dan serangga vektor yang siap menginfeksi 50 – 80% pohon di sekitarnya. Selain berakibat infeksi yang semakin menyebar, keterlambatan penanganan menyebabkan perusahaan harus mengeluarkan biaya yang tidak sedikit hanya untuk mengatasi Ganoderma di tengah kondisi penurunan angka produksi.

Untuk memperjelas dampak dari serangan Ganoderma, kami mencoba memberi gambaran pengamatan secara visual tentang gejala serangan Ganoderma di tahap awal sampai dengan tahap kritis, agar pihak pekebun dan perusahaan sawit lebih memahami gejala awal penyakit Ganoderma sebagai usaha dalam mencegah keterlambatan pengendalian.

Ciri – Ciri Serangan Ganoderma Pada Tanaman Kelapa Sawit

Stadium 1

  • Warna daun berubah menjadi hijau pucat dan kusam, akibat dari kekurangan air dan defisiensi hara makro mikro.
  • Pertumbuhan bagian pucuk terhambat, sehingga permukaan tajuk daun merata.
  • Pertumbuhan pelepah daun di bagian pucuk lebih pendek dari daun pelepah yang berada dibawahnya.
  • Pertumbuhan bunga betina berkurang dan BRT menurun sampai 30%.

 Stadium 2

  • Daun berwarna hijau kekuningan, kusam dan tidak mengkilap (hanya di satu sisi), diikuti dengan adanya bintik-bintik kuning klorosis yang berlanjut menjadi nekrosis, sehingga dari ujung daun pelepah mengering.
  • Muncul 2 daun tombak yang tidak membuka.
  • Pelepah paling bawah dan anak daun mengering pada spiral kelima sampai keenam.
  • Pertumbuhan pucuk daun melambat dan
  • Pada bagian pangkal batang dan daerah perakaran telah menyebar miselia Ganoderma.
  • Dengan adanya miselia Ganoderma menyebabkan 50% jaringan akar dan batang tidak berfungsi dalam menyerap air dan hara dari dalam tanah, sehingga pertumbuhan tanaman menjadi terhambat.
  • Produksi TBS menurun sampai 50% karena terjadi penurunan RJT dan BRT.
  • Tanaman lebih cenderung mengeluarkan bunga jantan.

 Stadium 3

  • Pelepah dan anak daun tanaman kelapa sawit mengering dan berpatahan pada spiral kedua sampai keenam (menuju mahkota daun).
  • Muncul 3 daun tombak yang tidak membuka.
  • Pada pangkal batang bagian akar telah tumbuh basidiokarp Ganoderma.
  • Banyak dijumpai akar busuk dan jaringan batang yang sudah mulai keropos.
  • Pertumbuhan vegetatif sudah terhenti sehingga menyebabkan tanaman kehilangan produksi sebesar 80%. Dalam waktu 6 bulan tanaman mati dan tumbang.

Stadium 4

  • Pada pangkal batang telah tumbuh basidiokarp Ganoderma sampai mengelilingi pohon sawit.
  • Seluruh daun mengering dan berpatahan sampai ke pucuk daun.
  • Pelepah patah bergantungan mengelilingi mahkota daun seperti rok wanita.
  • Seluruh jaringan pembuluh akar dan batang pohon sawit telah busuk dan mati (tidak berfungsi lagi).
  • Dalam waktu beberapa bulan, tanaman akan tumbang dan mati secara total dengan meninggalkan inokulum Ganoderma yang siap menginfeksi pohon sawit sehat di sekitarnya dengan radius sejauh 200 meter.

Penyebaran Penyakit Ganoderma

Sebenarnya awal kehadiran Ganoderma ditemukan dari hutan tropis, namun waktu itu kondisinya bahaya jamur Ganoderma untuk sawit belum terlalu membahayakan dan mengganggu agroekosistem tanah di hutan tropis, karena kehidupan (populasi) mikroorganisme predator dan kompetitor masih lebih banyak dibandingkan patogen yang merugikan tanaman.

Namun saat ini, dengan maraknya pembukaan hutan untuk dijadikan lahan perkebunan menyebabkan ekologi lingkungan hutan berubah, terlebih jika penanganan pembukaan hutan dan replanting tidak sesuai dengan kultur teknis tanaman.

Selain itu, penggunaan bahan kimia yang berlebihan dengan alasan mengefisiensi biaya perawatan tanaman telah menimbulkan residu bahan kimia di dalam tanah secara berlebihan dan permanen, akibatnya struktur tanah menjadi keras, padat dan membatu (tidak gembur lagi). Kondisi tanah seperti ini mengakibatkan tanaman tidak mampu menyerap air bahkan terjadi kekurangan oksigen di dalam tanah top soil, menyebabkan mikroorganisme predator alami dan cacing tanah menjadi berkurang bahkan punah.

Sedangkan patogen Ganoderma yang memiliki ketahanan terhadap lingkungan ekstrim akan menjadi semakin marak untuk menyerang tanaman-tanaman di perkebunan kelapa sawit. Pengelolaan perkebunan secara monokultur juga telah menempatkan penyakit ini sebagai pembunuh No.1 bagi tanaman kelapa sawit. Maka dari itu, ketahui cara penyebaran penyakit Ganoderma

Penyebaran Ganoderma Melalui Kontak Akar

Basidiokarp yang tumbuh pada batang pohon sawit akan menularkan penyakitnya ke pohon lain melalui kontak akar, dimana akar tanaman yang sakit akan bertemu dengan akar yang sehat, sehingga bisa menularkan infeksi Ganoderma ke seluruh tanaman yang masih sehat.

Penyebaran Ganoderma Melalui Spora yang Dibawa Angin

Semua pohon yang telah mati menjadi tempat tumbuh basidiokarp Ganoderma dalam jumlah yang cukup banyak. Basidiokarp Ganoderma yang telah dewasa akan menerbangkan jutaan spora sampai sejauh radius 200 meter dari sumber inokulum Ganoderma.

Penyebaran Ganoderma oleh Serangga Vektor

Apabila terdapat sarang rayap yang letaknya bersebelahan dengan pangkal batang sawit dan ditumbuhi basidiokarp Ganoderma, maka seluruh rayap yang ada di sarang tersebut merupakan vektor pembawa spora Ganoderma sawit dan dapat mengelilingi areal pertanaman sampai sejauh 5 km.

Sementara itu, ada juga larva Oryctes yang bersarang di pangkal batang pohon sawit, biasanya pada pangkal batang yang sudah busuk atau keropos akibat Ganoderma. Setelah larva tumbuh menjadi kumbang tanduk, maka ia juga dapat membawa spora Ganoderma kemanapun dia hinggap. Oleh karenanya, sering kita lihat basidiokarp Ganoderma tumbuh di pertengahan batang disebabkan oleh Oryctes pembawa spora, kemudian spora berkembang menjadi hifa dan miselium yang membusukkan batang pohon sawit, yang akhirnya menyebabkan kematian dan tumbangnya pohon sawit secara mendadak.

Penyebaran Ganoderma Akibat Penggembalaan Ternak

Ternak boleh dipelihara namun harus dikandangkan dan tidak boleh dilepas di areal pertanaman. Kotoran ternak merupakan tempat perkembangbiakan spora Ganoderma yang paling baik dengan menghasilkan spora generasi baru yang lebih tahan terhadap lingkungan ekstrem.

Penyebaran Penyakit Ganoderma Lewat Media Tanah pada Pembibitan Pre-Nursery & Main-Nursery

Tanaman sawit yang telah memasuki umur 25 tahun, mengharuskan tanaman tersebut segera direplanting. Satu tahun sebelum replanting biasanya dilakukan pembibitan Pre-Nursery dan Main-Nursery terlebih dahulu. 

Sayangnya, pada tahap ini pihak kebun sering mengabaikan sumber tanah yang diambil untuk diisi ke dalam babybag dan polybag. Dikarenakan para pekebun ingin mencari efisiensi biaya, biasanya pekebun akan mengambil tanah top soil di dalam blok areal pertanaman yang sudah endemik dan mengandung jutaan spora Ganoderma. Tanpa melewati proses pengayakan, pekebun langsung memasukkan tanah ke dalam babybag dan polybag, sehingga spora Ganoderma ikut masuk dengan tanah ke dalam pembibitan Pre-Nursery dan Main Nursery.

Pada saat tanaman berumur 2 tahun (TBM II), baru akan kelihatan gejala serangan Ganoderma bahkan sudah ada juga TBM yang tumbang diserang miselia Ganoderma.

Penyebaran penyakit Ganoderma telah masuk ke semua areal dengan jenis tanah yang bervariasi seperti mineral dan gambut, bahkan pada lahan yang kritis dan miskin unsur hara seperti tanah berpasir, tanah berbatu yang tentunya tingkat serangannya akan lebih ganas karena kondisi pertumbuhan fisik tanaman kurang baik, dan didukung oleh lingkungan yang cocok untuk perkembangbiakan spora Ganoderma.

Bagaimana, Masih Mau Kompromi dengan Penyakit Ini?

Memikirkan strategi membasmi penyakit ini memang tak akan ada habisnya. Itu sebabnya lebih baik mencegah daripada mengobati, maka sebelum kebun Anda terjangkit, segeralah periksa pohon sawit Anda kepada PT. Propadu Konair Tarahubun (Plantation Key Technology) dan pastikan dalam keadaan sehat dan lingkungan yang mendukung.

Bagi perusahaan yang memiliki masalah yang sama dan ingin bertanya lebih lanjut mengenai fungisida jamur Ganoderma, cara mengendalikan serangannya  dan hama penyakit lainnya, dapat mengunjungi website kami www.pkt-group.com atau menghubungi whatsapp kami +62 821 2000 6888.