Menolak Kelapa Sawit Bukan Solusi

Menolak Kelapa Sawit Bukan Solusi

Jakarta – Ada kesalahpahaman di dunia bahwa dampak sosial dan lingkungan dari pengembangan industri minyak sawit bisa diatasi jika perusahaan berhenti menggunakan minyak sawit dalam produk mereka, dan menggantinya dengan jenis minyak nabati lainnya. Namun, merujuk informasi dari Roundtable on Sustainable Palm Oil(RSPO), ini tidak semudah seperti kedengarannya karena sejumlah alasan.

Pertama, dengan menghilangkan minyak sawit dari pasar, permintaan akan beralih ke minyak nabati lainnya. Hal ini akan meningkatkan masalah keberlanjutan karena dibandingkan dengan tanaman minyak nabati lainya, seperti kedelai, bunga matahari atau rapeseed, kelapa sawit memiliki tingkat produktivitas hasil per hektar lebih tinggi (4-10 kali lebih banyak), sehingga beralih ke minyak nabati lainnya mungkin sangat berpotensi mengubah lebih banyak hutan primer menjadi lahan pertanian.

Kedua, di negara-negara produsen, jutaan petani dan keluarga mereka bekerja di sektor minyak sawit. Minyak kelapa sawit memainkan peran penting dalam pengurangan kemiskinan di wilayah tersebut. Di Indonesia dan Malaysia, sebanyak 4,5 juta orang menggantungkan hidupmereka dari produksi minyak sawit. Menghentikan produksi minyak sawit berarti bahwaorang-orang ini tidak akan lagi mampu menghidupi keluarga mereka.

Ketiga, mengganti minyak sawit dengan jenis minyak lainnya tidak selalu layak karena minyak sawit sebagai bahan makananmemilikisifat yang unik. Menggunakan minyak nabati lain tidak akan memberi produk dengan tekstur dan rasa yang sama seperti yang ditawarkanminyak kelapa sawit.

Sementara untuk alasan keberlanjutan, lebih baik konsumen beralih menggunakan minyak sawit berkelanjutan daripada minyak nabati lainnya. Seperti yang juga didorong dalam laporan WWF Jerman, berujudul “Mencari alternatif”.

Dalam laporan tersebut, penggantian minyak sawit dengan minyak nabatidari tumbuhan tropis lainnya tidak akan memenuhi tujuan yang diinginkan. Minyak kedelai dan minyak kelapa tumbuh di daerah yang sama atau secara ekologis, sama sensitifnya.

sumber: infosawit.com