Pengendalian Hama Tikus di Perkebunan Kelapa Sawit

Pengendalian Hama Tikus di Perkebunan Kelapa Sawit

Hama tikus menjadi musuh besar bagi para petani dan pengelola perkebunan. Namun, karena hama yang berasal dari binatang juga merupakan unsur penting dalam ekosistem dan rantai makanan, maka terdapat aturan dalam pengendalian hama tikus agar tidak mengganggu dan merusak rantai makanan alami.

Tikus tidak hanya menyerang lahan persawahan saja, tetapi juga senang menggerogoti akar dan buah dari perkebunan kelapa sawit. Sebab, tikus merupakan binatang pemakan segalanya yang kita kenal dengan istilah omnivora.

Terdapat upaya dan solusi yang diterapkan untuk mengendalikan hama tikus di perkebunan kelapa sawit. Upaya ini tentunya telah sesuai dengan peraturan yang berlaku demi terjaganya keseimbangan ekosistem alam di tanah Indonesia.

Berikut ini penjelasan mengenai bagaimana cara pencegahan dan pengendalian hama dan penyakit kelapa sawit, serta pengendalian hama tikus secara terpadu secara biologi maupun kimiawi.

Hama Tikus Harus Dibasmi

Mengapa pengendalian hama tikus harus diperhatikan secara khusus? Selain karena faktor utama yang merugikan bagi para pengelola perkebunan kelapa sawit, pengendalian hama tikus wajib dibasmi karena proses perkembangbiakannya sangat cepat.

Adapun masa bunting tikus betina hanya memakan waktu kurang lebih 21 hari, dan setelah melahirkan pun tikus betina sudah mampu untuk kawin kembali dengan jarak waktu hanya 24 – 48 jam saja. Hanya membutuhkan 1 – 2 hari saja untuk tikus betina kembali bunting.

Jika hal ini dibiarkan, maka populasi hama tikus kelapa sawit bisa meningkat drastis hingga 300 ekor selama jangka waktu 6 bulan saja (dengan permisalan 60 ekor per hektarnya). Dengan begitu,  produksi TBS lenyap dimakan hama begitu saja hingga menyebabkan kerugian produktivitas sampai 15%.

Inilah mengapa pentingnya untuk belajar pengendalian hama tikus secara terpadu guna menjaga pohon kelapa sawit yang sudah ditanam dan dirawat dengan susah payah untuk diambil hasilnya.

Pengendalian Tikus Secara Kimiawi

Pengelola kebun sawit wajib waspada bila terdapat 5 pohon sawit dalam satu hektar lahan yang menunjukan tanda-tanda kerusakan akibat serangan hama tikus di bagian buah dan pelepah pohon kelapa sawit.

Pengendalian tikus secara kimiawi adalah upaya pengendalian hama kelapa sawit dengan metode kimiawi, yakni menggunakan racun dan pestisida yang tentunya ramah lingkungan.

Adapun racun dan pestisida yang digunakan tidak boleh sembarangan nama maupun merk. Hal ini agar biota lain tidak ikut tercemar racun, sehingga ekosistem perkebunan tetap terjaga dengan baik.

Racun yang boleh digunakan untuk pengendalian hama tikus secara terpadu di perkebunan kelapa sawit adalah jenis anticoagulant, yang tidak akan meracuni binatang lainnya yang hidup di area perkebunan.

Hal-hal yang perlu diperhatikan oleh pengelola perkebunan kelapa sawit saat akan menebar racun pengendali hama tikus adalah sebagai berikut:

  • Pengelola kebun wajib berhati-hati dalam menempatkan atau menebar racun di lahan agar tepat sasaran.
  • Sisa racun tidak boleh dibawa pulang. 
  • Penggunaan racun setiap harinya wajib dilakukan pencatatan, sekaligus penghitungan pemakaian per hektarnya.
  • Pengelola kebun wajib memberikan/memasang tanda “AWAS RACUN TIKUS BERBAHAYA” di lokasi tempat ditaburnya racun tikus.

Agar penebaran racun sebagai pengendalian tikus secara kimiawi menjadi lebih efektif, berikut beberapa tips yang bisa diterapkan:

  • Lahan yang ditabur racun harus dilakukan selama 3 – 4 hari berturut-turut.
  • Rotasi penebaran racun diikuti dengan rotasi penggantian racun dengan selang waktu 7 hari.
  • Hanya racun yang hilang atau telah dimakan oleh tikus yang perlu diganti dengan racun yang baru.
  • Penebaran racun harus sesuai dengan serangan hama tikus dalam areal blok pertanaman. 
  • Disarankan juga untuk menebar racun tikus di tepi lahan yang terkena serangan hama walaupun belum ada tanda-tanda pohon yang terserang hama. Hal ini dilakukan untuk mencegah tikus menyebrang ke lahan lain sehingga menyebabkan kerusakan baru.
Pengendalian Tikus Secara Biologi

Selain pencegahan dan pengendalian hama tikus pada pohon kelapa sawit secara kimiawi, ada juga upaya pencegahan dan pengendalian tikus yang dilakukan secara biologis yakni dengan memanfaatkan binatang/hewan lain yang menjadi predator tikus tersebut.

Pengendalian hama tikus secara biologi dilakukan dengan pemeliharaan burung hantu  sebagai hewan yang suka memangsa tikus di area lahan perkebunan kelapa sawit.

Adapun jenis burung hantu yang dimanfaatkan untuk pengendalian hama tikus di perkebunan kelapa sawit adalah jenis Tyto alba. Burung hantu Tyto alba dipilih sebagai hewan pengendali tikus di areal perkebunan karena memiliki sifat yang mendukung penanganan.

Burung hantu Tyto alba aktif di malam hari (nocturnal), yang mana 99% makanan utamanya adalah tikus dan 1% sisanya adalah serangga. Burung hantu Tyto alba memiliki kemampuan berburu yang sangat baik.

Per harinya burung hantu Tyto alba mampu memangsa 2 – 5 tikus, sehingga sangat cocok dan cukup untuk dijadikan sebagai hewan pengendali tikus di lahan perkebunan kelapa sawit.

Hal-hal yang perlu dilakukan untuk mengendalikan hama tikus di perkebunan adalah dengan memanfaatkan burung hantu Tyto alba yang diuraikan sebagai berikut:

  • Ukuran kandang penangkaran yang digunakan adalah 4 m x 5 m x 4 m, serta kandang dalam (berbentuk seperti kandang ayam) dengan ukuran 1 m x 2,5 m x 50 cm.
  • Kandang penangkaran/kandang luar berfungsi sebagai tempat mengembangbiakkan anak burung hantu Tyto alba. Selain itu, untuk menjaga sifat asli Tyto alba yang senang berkumpul pada sore hari sebelum melakukan perburuan.
  • Kandang (dupont) dalam berfungsi sebagai rumah dan tempat burung hantu Tyto alba  untuk beristirahat.
  • Untuk pengenalan, Tyto alba akan dikurung selama 2 minggu dengan diberi makan berupa tikus hidup untuk memancing nalurinya dalam berburu tikus di area perkebunan.
  • Jika burung hantu Tyto alba telah mengalami proses anakan, maka pengelola kebun wajib mengevakuasi atau memisahkan induk dan anak agar nantinya ditangkar dan dilatih sebagai pengendali hama di perkebunan kelapa sawit.
  • Pengelola kebun juga wajib melakukan monitoring selama dua minggu sekali untuk melihat burung hantu yang aktif dan nonaktif di areal afdeling daerah sarang burung hantu dibuat.
Manfaat Burung Hantu Tyto alba 

Pengendalian hama tikus dengan cara memanfaatkan burung hantu Tyto alba dapat membantu meningkatkan produktivitas perkebunan kelapa sawit. Lantaran, Tyto alba adalah predator yang potensial untuk mengendalikan tikus secara biologi di perkebunan kelapa sawit dan dapat memangsa 2 – 5 ekor tikus setiap harinya. Selain itu, Tyto alba juga bermanfaat untuk menurunkan kerusakan dari 20% – 30% menjadi 5% pada tanaman muda kelapa sawit. 

Dalam pemanfaatan Tyto alba, dibutuhkan sarang burung hantu (dupont) yang ideal dalam sebuah lahan perkebunan kelapa sawit yaitu satu sarang burung hantu di setiap 20 hektar areal perkebunan kelapa sawit, dengan kata lain sepasang Tyto alba untuk 20 hektar areal. Namun, jika hama tikus pada perkebunan kelapa sawit meningkat maka perlu dilakukan peningkatan jumlah kandang untuk meningkatkan populasi burung hantu. 

Tyto alba juga dapat mengendalikan serangan tikus secara alami dan mengurangi penggunaan rodentisida. Oleh karena itu, pemanfaatan Tyto alba dinilai lebih aman karena dapat mengurangi penggunaan bahan kimia dalam pengendalian hama tikus.

Penutup

Itulah penjelasan mengenai cara pengendalian hama tikus di kebun kelapa sawit yang bisa dipraktekan di perkebunan sawit Anda. Diperlukan kesabaran dan keuletan dalam melakukan pencegahan dan pengendalian serangan hama tikus agar hasilnya sukses dan sesuai dengan harapan yang diinginkan.

Sekian pembahasan mengenai artikel pengendalian hama tikus di perkebunan kelapa sawit yang bisa dilakukan baik secara kimiawi maupun biologi. Keduanya tetap ramah lingkungan sehingga aman bagi keberlangsungan ekosistem lahan. Semoga bermanfaat!

Bagi Anda yang ingin mengendalikan hama dan penyakit pada tanaman sawit, silahkan kunjungi website kami www.pkt-group.com atau menghubungi whatsapp kami 0821-2000-6888

FAQ 
1. Bagaimana Pengendalian Hama yang Baik? 

Dengan memperhatikan dampak pengendalian hama bagi habitat sekitar. Pastikan bahan / alat yang digunakan untuk mengendalikan hama tidak berbahaya dan aman untuk keberlangsungan ekosistem di lahan perkebunan sawit.

2. Bagaimana Cara Membasmi Hama Tikus Agar Tidak Kembali Lagi? 

Pertama, basmi menggunakan racun tikus di areal yang terdampak hama. Selanjutnya, dapat melakukan pengendalian secara alami dengan memanfaatkan burung hantu Tyto alba yang membantu meningkatkan produktivitas perkebunan kelapa sawit.