Sawit Notif – Dilansir dari www.cnbcindonesia.com, Menteri Investasi dan Hilirisasi atau Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Rosan Roeslani mengungkapkan bahwa sektor hilirisasi akan meningkat kontribusinya mencapai lebih dari 30% dalam kurun waktu 5 tahun mendatang atau 2030.
“Dan kami sangat yakin kontribusi dari industri hilir akan meningkat bahkan hingga 30% dalam lima tahun ke depan,” ujarnya dalam acara Laporan B-Ready World Bank, di Four Seasons, Jakarta, Senin (10/2/2025).
Tahun 2024 lalu saja, lanjut Rosan, kontribusi sektor hilirisasi di Indonesia mencapai 28,8%. Dengan begitu, Rosan yakin dalam waktu 5 tahun mendatang Indonesia bisa meningkatkan sektor hilirisasi lebih dari 30%.
Walaupun memang, Rosan mengatakan harapan tersebut harus didukung oleh kerja sama Indonesia dengan berbagai pihak lainnya.
“Pada saat yang sama, industri hilir juga akan menjadi sektor yang signifikan bagi Indonesia,” tandasnya.
Sebelumnya, Rosan sempat membeberkan pemerintah telah memetakan hingga 28 komoditas dalam negeri yang bisa digenjot program hilirisasinya.
“Ini adalah 28 sektor komoditas yang sudah kami petakan pada saat ini dan ini terbagi di dalam 8 sektor, baik itu mineral, batu bara, minyak bumi, gas bumi, perkebunan, kehutanan, perikanan, dan kelautan,” kata Rosan dalam Rapat Kerja (Raker) dengan Komisi XII DPR RI, Jakarta, Selasa (3/12/2024).
Rosan menyebutkan, dari 28 sektor, ada enam komoditas utama yang akan diprioritaskan program hilirisasinya di Indonesia. Enam komoditas yang diutamakan tersebut, kata Rosan, lantaran Indonesia sendiri rata-rata menyimpan bahan baku yang terhitung menjadi yang terbesar di dunia.
“Kami sudah melakukan pemetaan ini dan bersama-sama dengan independen yang kami tunjuk dan kami memang ada 28 (komoditas hilirisasi). Tapi kami melihat bahwa mungkin kami akan melihat beberapa industri yang mungkin 5-6 yang kami akan lebih prioritaskan,” imbuhnya.
Dia mengatakan, sejatinya Indonesia telah dibekali oleh sumber daya alam yang melimpah yang bisa dimanfaatkan untuk menyumbang nilai tambah di Indonesia melalui program hilirisasi.
“Kami juga baru mengetahui bahwa sebenarnya Indonesia ini kalau saya boleh sampaikan memang ini negara yang dicintai sama Allah SWT ini. Kenapa? Karena diberikan begitu banyak kekayaan alam, darat, laut, udara,” ujarnya.
Berdasarkan catatan Kementerian Investasi/BKPM, berikut komposisi cadangan 28 komoditas di Indonesia terhitung dalam lingkup global:
- Nikel (42%) no. 1 di dunia
- Timah (16,3%) no. 2 di dunia
- Tembaga (3%) no. 11 di dunia
- Bauksit (4%) no. 6 di dunia
- Besi baja (0,94%) no. 16 di dunia
- Emas perak (emas 5%, perak 2%)
- Batu bara no. 7 di dunia
- Aspal buton (3,91%) no. 3 di dunia
- Minyak bumi (0,1%) no. 5 di Asia Pasifik
- Gas bumi (0,7%) no. 4 di Asia Pasifik
- Sawit (58,7%) no. 1 di dunia
- Kelapa (27%) no. 1 di dunia
- Karet (27%) no. 2 di dunia
- Biofuel (59%) no. 1 di dunia hanya dari sawit
- Kayu balok (4%) no. 6 di dunia
- Getah pinus (13%) no. 3 di dunia
- Udang (16%) no. 3 di dunia
- Ikan TCT (21%) no. 1 di dunia
- Rajungan (3%) no. 2 di dunia
- Rumput laut (28%) no. 2 di dunia
- Potensi lahan garam potensi 47.734 hektar
- Pasir silika (0,9%) no. 18 di dunia
- Mangan (3,2%) no. 7 di dunia
- Kobal (7,19%) no. 3 di dunia
- Logam tanah jarang cadangan 227.976 ton
- Kakao (4%) no. 7 di dunia
- Pala (31,2%) no. 1 di dunia
- Tilapia (22,1%) no. 1 di dunia(AD)(DK)(SD)(NR)