Potensi Lahan Kering Masam untuk Perkebunan Kelapa Sawit

lahan-kering

Sawit Notif – Faktor iklim dan tanah mempunyai peran yang besar dalam mendukung produktivitas tanaman sawit. Keterbatasan sumber daya lahan membuat banyak petani mulai melirik penggunaan lahan kering masam.

Sederhananya, lahan kering masam adalah kondisi tanah yang memiliki tingkat keasaman tinggi dengan kandungan unsur hara cukup rendah. Meski begitu, lahan tersebut masih berpotensi untuk dimanfaatkan dalam kegiatan perkebunan sawit.

Tantangan Utama Penanaman Sawit di Lahan Kering Masam

Luas lahan kering masam di Indonesia yang melimpah membuat banyak petani sawit mulai meliriknya. Pemanfaatan lahan ini seringkali menghadapi berbagai tantangan yang cukup kompleks. Oleh sebab itu, petani sawit perlu memahami kondisi dan tantangannya.

Berbicara tentang tantangan menanam sawit di lahan yang kering masam, tanaman memerlukan perlakuan khusus. Jika tidak mendapatkan perlakuan khusus, produktivitas tanaman sawit cenderung rendah dan pertumbuhannya tidak seragam.

Di Indonesia, lahan kering yang masam cukup banyak tersebar di Kalimantan dan Sumatera. Terdapat beberapa jenis tanah yang mendominasi kedua kawasan ini. Mencakup Ultisols, Oxisols, dan Inceptisols.

1. Karakteristik Alami yang Masam

Lahan kering masam karakteristiknya sangat identik dengan tingkat keasaman yang tinggi, umumnya memiliki pH di bawah 5.5. Kondisi ini bisa terjadi karena proses pelindian yang intensif akibat curah hujan tinggi.

Basa-basa tanah banyak yang tercuci, seperti kalsium, magnesium, dan kalium. Akibatnya, tanah menjadi didominasi oleh ion aluminium dan besi yang bersifat toksik bagi tanaman sawit. Oleh sebab itu, penanaman sawit membutuhkan perlakuan secara khusus.

Tingkat keasaman tanah yang tinggi dapat menghambat pertumbuhan sistem perakaran sawit. Akar tanaman berubah menjadi pendek dan kurang berkembang. Kondisi ini mengakibatkan kemampuan menyerap air dan unsur hara menjadi terbatas.

Kelemahan lahan kering yang masam berdampak langsung terhadap pertumbuhan vegetatif dan pembentukan produksi tandan buah segar. Tingginya kejenuhan aluminium juga berpotensi merusak ujung akar dan mengganggu aktivitas fisiologi tanaman.

2. Miskin Unsur Hara

Kendala lahan kering masam mempunyai kaitan yang erat dengan minimnya kandungan unsur hara, baik unsur makro maupun mikro. Bahkan dalam kondisi parah beberapa unsur hara penting memiliki jumlah yang terbatas.

Hal ini tentu saja menyebabkan tanaman sawit sering mengalami defisiensi hara. Untuk menyiasatinya, petani sawit perlu memilih pupuk dengan kandungan yang lengkap. Unsur hara pada pupuk kelapa sawit dapat membantu memenuhi kebutuhan tanaman.

Pemupukan kelapa sawit di lahan yang kering masam memerlukan strategi yang tepat dan seimbang. Pupuk yang diberikan tidak hanya harus mencukupi kebutuhan hara tanaman saja. Namun, juga perlu disesuaikan dengan kondisi tanah agar lebih efisien.

Untuk itu, petani sawit dapat mempertimbangkan penggunaan pupuk MOAF dari PKT. Pupuk dengan formulasi khusus ini dapat meningkatkan ketersediaan unsur hara dan mendukung aktivitas mikroorganisme di dalam tanah. Terutama yang bermanfaat bagi sawit.

3. Memiliki Struktur yang Lemah

Ciri lahan kering dapat dengan mudah terlihat bahkan dengan kasar mata saja. Pada dasarnya, lahan kering yang masam memiliki struktur tanah kurang baik. Struktur tersebut tampak dari agregat tanah yang lemah dan mudah rusak.

Kondisi semacam ini menyebabkan porositas tanah rendah, sehingga sirkulasi udara dan pergerakan air di dalam tanah menjadi tidak optimal. Akar tanaman sawit yang berada di dalam tanah menjadi sulit berkembang secara maksimal.

Lahan kering yang bermasalah karena tanah masam juga sering diperparah dengan masalah rendahnya kandungan bahan organik. Tekstur tanah menjadi padat saat kering dan lengket saat basah.

Petani sawit bisa melakukan upaya perbaikan dengan menambahkan bahan organik, melakukan penanaman tanaman penutup tanah, dan mengelola lahan secara konservatif. Beberapa upaya tersebut mampu menciptakan lingkungan tumbuh yang baik bagi sawit.

4. Rentan Erosi

Menanam di lahan kering juga rawan terhadap risiko erosi. Hal ini dapat terjadi karena struktur tanah yang lemah dan rendahnya penutupan vegetasi. Air hujan dengan intensitas yang cukup tinggi dapat dengan mudah mengikis lapisan atas tanah.

Padahal, lapisan atas tanah memiliki sifat subur. Erosi yang terjadi menyebabkan hilangnya lapisan top soil yang kaya akan unsur hara dan bahan organik. Kesuburan tanah pun ikut terpengaruh.

Dalam jangka panjang, erosi dapat mengakibatkan degradasi lahan yang sulit pulih. Oleh sebab itu, petani sawit memerlukan strategi yang matang ketika berencana menanam sawit di lahan kering dan masam.

Butuh teknisi konservasi tanah yang baik agar tanaman sawit tumbuh dengan sempurna. Penanaman kelapa sawit di lahan kering yang tidak menerapkan teknik konservasi tanah akan meningkatkan risiko erosi.

Potensinya Mengubah Lahan Kering Masam Menjadi Lahan Sawit yang Produktif

Sebenarnya, lahan kering yang masam memiliki potensi besar apabila dikembangkan menjadi perkebunan sawit. Hanya saja, pengelolaannya perlu dilakukan secara tepat. Petani sawit perlu melakukan beberapa upaya mengatasi lahan kering masam dengan cara yang benar.

Pengelolaan lahan secara baik tentu saja akan menciptakan lingkungan tumbuh yang lebih sesuai untuk sawit. Setelahnya, pertumbuhan tanaman akan berjalan optimal dan berkelanjutan.

Lahan kering yang masam bisa berubahan menjadi kawasan produktif jika petani gencar melakukan upaya perbaikan. Mencakup pemupukan, ameliorasi tanah, menerapkan teknologi konservasi lahan dan air, memanfaatkan bibit berkualitas, serta memperbaiki pH lahan.

Untuk memperbaiki pH pada lahan kering masam, petani dapat melakukan pengapuran. Upaya pengapuran berfungsi untuk untuk menaikkan pH tanah dan meningkatkan ketersediaan unsur hara (terutama fosfor).

Meski menanam di lahan kering yang masam, petani tetap bisa menekan dampak musim trek sawit. Setelahnya, penurunan produksi tidak akan berlangsung terlalu panjang. Keuntungan yang diperoleh oleh petani sawit akan tetap menjanjikan.

Butuh Bantuan dalam Mengelola Kebun Kelapa Sawit?

Lahan kering masam membutuhkan pengelolaan yang tepat. Jika tidak produktivitas kebun akan turun. Bagi pihak perkebunan sawit yang ingin mendapatkan informasi lebih lengkap silahkan hubungi nomor 0821-2000-6888 atau kunjungi website https://pkt-group.com/.

FAQ

Apa yang Menyebabkan Tanah Menjadi Masam?

Terdapat beberapa alasan yang mengakibatkan tanah berubah menjadi masam. Misalnya saja proses pelindian unsur hara basa yang tinggi dan penggunaan pupuk kimia secara terus-menerus.

Kondisi tersebut bisa semakin parah jika petani minim melakukan pengelolaan tanah, sehingga pH terus menurun dari waktu ke waktu. Tanah masam memiliki kandungan kalsium, magnesium, dan kalium yang minim.

Tanah Kering Memiliki pH Berapa?

pH tanah lahan kering sebenarnya memiliki angka yang bervariasi, tergantung dengan kondisi lingkungan dan pengelolaannya. Namun, kisaran umumnya berada di angka 4.0 hingga 5.5. Kondisi ini memerlukan perlakuan khusus jika dimanfaatkan untuk budidaya sawit.

Apa Akibat Apabila Tanah pHnya Asam?

Angka pH lahan kering yang menunjukkan keasaman dapat menyebabkan terganggunya penyerapan unsur hara bagi tanaman sawit. Akibatnya, tanaman sawit akan mengalami stres dan produktivitasnya menurun. (SD)(DK)