Sebuah laporan menarik dilansir oleh Infosawit mengangkat paradoks tentang kelapa sawit dan tata air. Dalam berbagai forum dan literatur agronomi, kelapa sawit sering kali mendapat predikat sebagai tanaman yang “hemat air”. Secara fisiologis, klaim ini benar. Dibandingkan tanaman komoditas lain seperti padi atau tebu, sawit memiliki laju evapotranspirasi yang lebih rendah dan akar serabut yang efisien dalam menyerap kelembapan tanah. Sawit bisa bertahan di lahan kering tanpa membutuhkan sistem irigasi buatan yang masif.
Namun, sebuah pertanyaan besar muncul di lapangan. Jika sawit memang irit air, mengapa sungai-sungai yang berada di sekitar sentra perkebunan sawit di Indonesia—seperti di Riau, Jambi, hingga Kalimantan—justru mengalami degradasi yang makin parah? Mengapa banjir besar melanda di musim hujan, sedangkan di musim kemarau debit airnya menyusut drastis hingga kekeringan?
Jawabannya bukan pada berapa liter air yang diminum oleh pohon sawit, melainkan pada bagaimana ekosistem lahan tersebut dibangun dan dikelola.
Mengganti Spons Raksasa dengan Talang Air
Hutan hujan tropis adalah spons alami yang sempurna. Struktur tanah hutan yang gembur, dilapisi serasah daun tebal, dan diikat oleh akar-akar pohon raksasa, mampu menyerap ratusan milimeter air hujan dan melepaskannya secara perlahan ke sungai sepanjang tahun.
Ketika hutan dibuka untuk perkebunan, struktur tanah ini hancur. Penggunaan alat berat saat pembukaan lahan mengakibatkan pemadatan tanah (soil compaction). Tanah yang awalnya poros dan mampu menyerap air kini menjadi keras. Akibatnya, air hujan tidak lagi meresap ke dalam tanah (recharge), melainkan mengalir langsung di permukaan (surface run-off). Inilah mengapa sungai meluap drastis saat hujan turun.
Tragedi Drainase Lahan Gambut
Sebagian besar perluasan perkebunan sawit terjadi di lahan gambut. Secara alami, gambut adalah ekosistem yang terendam air dan berfungsi sebagai waduk penahan banjah.
Agar sawit bisa tumbuh di lahan gambut, perusahaan dan petani harus membuat kanal-kanal drainase parit untuk membuang air. Tragedinya, kanal ini tidak hanya mengeringkan area perkebunan, tetapi juga menurunkan muka air tanah di ratusan hektar lahan di sekitarnya. Air yang seharusnya disimpan dalam gambut selama musim kemarau, kini dibuang begitu saja ke laut. Ketika musim kemarau tiba, lahan gambut yang kehilangan air mudah terbakar, menghasilkan kabut asap, dan sungai pun kehilangan debit airnya.
Erosi dan Limbah Agrokimia
Tanpa penutup tanah alami (understory) seperti di hutan, hujan yang jatuh langsung menghantam tanah perkebunan. Ini memicu erosi masif. Tanah dan sedimen terbawa arus menuju sungai, membuat sungai menjadi dangkal.
Lebih dari itu, tanpa zona penyangga (riparian buffer) berupa pohon-pohon di tepi sungai, limbah pemupukan dan aplikasi pestisida dari perkebunan mudah sekali tercuci oleh hujan dan masuk ke aliran sungai. Kualitas air pun menurun, mematikan biota sungai dan mengganggu kehidupan masyarakat di hilir.
Menata Ulang Tata Kelola Perkebunan
Klaim “sawit hemat air” hanya akan terbukti benar jika perkebunan sawit dikembangkan di lahan mineral yang tepat, dengan prinsip menjaga kawasan tangkapan air (catchment area), mempertahankan zona penyangga sungai, dan mengelola lahan gambut secara bijaksana (paludikultur).
Keberlanjutan perkebunan sawit di masa depan sangat bergantung pada kemampuan kita memperbaiki tata kelola lahan ini. <a href=”https://pkt-group.com/”>PKT Group</a> hadir sebagai mitra yang memahami betul kompleksitas industri kelapa sawit, mendorong praktik agronomi yang lebih bertanggung jawab dan inovatif untuk menjaga keseimbangan antara produktivitas dan kelestarian lingkungan.
Baca Juga: Selain tantangan tata air dan lingkungan, ancaman biologis juga menjadi masalah serius di perkebunan. Ketahui cara mengatasi jamur mematikan pada kelapa sawit melalui artikel kami tentang ganoderma
Sumber Referensi:
- https://www.infosawit.com/2026/06/05/sawit-itu-hemat-air-lulu-kenapa-sungai-kita-makin-parah/ – Infosawit

