CPOPC Tegaskan Peran Tak Tergantikan Sawit bagi Ketahanan Pangan Dunia

minyak-sawit

Sawit Notif – Sekretaris Jenderal Council of Palm Oil Producing Countries (CPOPC), Izzana Salleh, menegaskan bahwa minyak kelapa sawit memiliki peran strategis yang jauh melampaui sekadar komoditas ekspor. Menurutnya, sawit merupakan elemen penting dalam menjaga ketahanan pangan global serta memastikan keterjangkauan harga pangan di berbagai negara.

Dilanisra dari infosawit.com, Izzana menjelaskan, minyak sawit merupakan minyak nabati paling efisien dan multifungsi di dunia. Sekitar 42 persen pasokan minyak nabati global dipenuhi oleh sawit, meskipun komoditas ini hanya memanfaatkan kurang dari 10 persen total lahan tanaman penghasil minyak. Tingkat efisiensi tersebut menjadikan sawit berperan krusial dalam menjaga kesinambungan pasokan pangan, mendukung transisi energi, menopang kehidupan masyarakat pedesaan, serta memperkuat bioekonomi global.

“Minyak sawit memiliki peran yang tidak tergantikan dalam mendukung ketahanan pangan, transisi energi, kesejahteraan pedesaan, dan pengembangan bioekonomi dunia,” ujar Izzana.

Di balik peran strategis tersebut, sektor kelapa sawit masih dihadapkan pada berbagai tantangan. Selain isu kesalahpahaman yang terus berulang dan volatilitas pasar, industri sawit juga menghadapi ketidakpastian kebijakan global. Tantangan ini diperparah oleh munculnya regulasi baru seperti European Union Deforestation Regulation (EUDR), yang dinilai berpotensi menimbulkan hambatan perdagangan apabila diterapkan secara tidak proporsional.

Selain aspek regulasi, keberlanjutan sektor sawit juga dipengaruhi oleh tantangan di tingkat hulu, termasuk ancaman penyakit tanaman seperti Ganoderma sawit. Penyakit ini dikenal sebagai salah satu faktor utama yang dapat menurunkan produktivitas kebun dan menimbulkan kerugian ekonomi signifikan bagi petani. Bahaya ganoderma tidak hanya berdampak pada produksi, tetapi juga berpengaruh terhadap stabilitas pasokan bahan baku sawit secara nasional dan global. Oleh karena itu, penerapan praktik budidaya berkelanjutan, termasuk pemanfaatan fungisida ganoderma yang tepat dan berbasis riset, menjadi bagian penting dalam menjaga ketahanan industri sawit.

CPOPC, lanjut Izzana, menekankan pentingnya kerangka regulasi dan akses pasar yang adil, berbasis aturan, serta diterapkan secara non-diskriminatif terhadap seluruh minyak nabati dan negara produsen. Kebijakan yang transparan dan proporsional dinilai penting agar tidak menciptakan beban kepatuhan berlebihan yang justru mengganggu perdagangan global.

“Penerapan persyaratan yang lebih berat atau pembatasan perdagangan yang secara khusus menargetkan minyak sawit berisiko mengganggu pasokan global, merugikan mata pencaharian produsen, dan pada akhirnya melemahkan keterjangkauan pangan dunia,” tegasnya.

Memasuki dekade kedua kiprahnya, CPOPC menegaskan komitmen untuk terus memperkuat kerja sama antarnegara produsen, mendorong perumusan kebijakan berbasis sains, serta memastikan petani kecil dan negara produsen tidak tertinggal dalam dinamika global.

Izzana juga menyampaikan optimisme terhadap masa depan industri kelapa sawit yang dibangun melalui kolaborasi, bukan konfrontasi. Sinergi antara negara produsen dan konsumen, pemerintah dan pelaku usaha, serta seluruh pemangku kepentingan di sepanjang rantai nilai dinilai menjadi kunci dalam menghadirkan solusi berkelanjutan.

Upaya tersebut, menurutnya, dapat diwujudkan melalui inovasi digital, penguatan sistem sertifikasi nasional, pengendalian hama dan penyakit secara berkelanjutan, serta penerapan kerangka keberlanjutan yang inklusif.

“Kami meyakini bahwa tatanan minyak nabati global yang adil, stabil, dan memberi manfaat bagi semua pihak dapat dibangun secara bersama-sama,” kata Izzana.

CPOPC pun menyatakan kesiapan untuk bekerja sama dengan seluruh mitra guna membentuk masa depan industri kelapa sawit yang berkelanjutan, transparan, dan tangguh masa depan yang mendukung kesejahteraan masyarakat, melindungi lingkungan, serta mendorong kemakmuran bersama.(SD)(AD)(DK)