Harga CPO Menguat, Sawit Jadi Penopang Utama Ekonomi Riau

Harga-CPO

Sawit Notif – Komoditas kelapa sawit atau crude palm oil (CPO) masih menjadi penopang utama perekonomian Provinsi Riau di tengah ketidakpastian ekonomi global. Mengutip laporan sawitindonesia.com, hingga akhir Januari 2026, tren harga CPO yang tetap tinggi serta permintaan pasar internasional yang kuat berperan besar dalam menjaga stabilitas dan mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.

Dilansir sawitindonesia.com, Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Riau, Heni Kartikawati, menyampaikan bahwa pertumbuhan ekonomi Riau pada Triwulan IV 2025 mencapai 4,94 persen secara tahunan (year-on-year/y-o-y). Angka tersebut menunjukkan perbaikan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang hanya tumbuh 3,52 persen.

Dari sisi struktur ekonomi, sektor industri pengolahan masih mendominasi dengan kontribusi 30,45 persen, disusul sektor pertanian 27,96 persen dan pertambangan 15,03 persen. Dalam komposisi tersebut, kelapa sawit dan produk turunannya menjadi penyumbang signifikan, terutama melalui aktivitas industri pengolahan dan ekspor.

Berdasarkan pendekatan pengeluaran, Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Riau ditopang oleh konsumsi rumah tangga sebesar 35,18 persen, ekspor luar negeri 30,65 persen, serta pembentukan modal tetap bruto (PMTB) 30,04 persen. Meski laju pertumbuhan sedikit melambat dibandingkan triwulan sebelumnya dan masih berada di bawah rata-rata nasional sebesar 5,39 persen, kinerja ini dinilai mencerminkan daya tahan ekonomi daerah yang cukup solid.

Heni menjelaskan, ketergantungan terhadap komoditas sumber daya alam seperti sawit, minyak dan gas bumi (migas), serta batubara turut memengaruhi dinamika pertumbuhan ekonomi Riau. Di tengah tren penurunan produksi migas dan batubara, peran CPO justru semakin menonjol dalam menopang perekonomian daerah.

Pada Triwulan IV 2025, ekspor luar negeri tercatat tumbuh 5,58 persen (y-o-y) dan berkontribusi terhadap kenaikan PDRB dari sisi ekspor sebesar 2,74 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Meskipun harga CPO saat ini sedikit lebih rendah dibandingkan awal 2025, tingginya permintaan global tetap mendorong peningkatan volume ekspor.

Optimisme terhadap kinerja ekonomi Riau juga terlihat pada proyeksi Triwulan I 2026 yang diperkirakan tumbuh di kisaran 4,7 hingga 5,2 persen. Proyeksi ini didukung oleh harga komoditas yang masih kompetitif serta membaiknya distribusi pasokan dari wilayah sekitar setelah pulih dari bencana hidrologis.

Di sisi lain, pada Januari 2026 Riau mengalami deflasi sebesar 0,45 persen secara bulanan (month-to-month). Deflasi dipicu oleh penurunan harga kelompok makanan, minuman, dan tembakau, termasuk cabai merah, cabai rawit, bawang merah, buncis, telur ayam ras, serta turunnya tarif angkutan udara. Perbaikan pasokan dari Sumatera Barat pascabencana turut berkontribusi terhadap stabilisasi harga.

Ke depan, stabilitas harga dan keberlanjutan permintaan global terhadap CPO akan tetap menjadi faktor penentu arah perekonomian Riau. Selama pasar internasional tetap menyerap produk sawit dengan harga yang kompetitif, CPO diyakini akan terus menjadi motor penggerak utama ekonomi daerah, terutama melalui ekspor dan industri pengolahan. (SD)(DK)