Risiko Curah Hujan Tinggi terhadap Perkebunan Kelapa Sawit dan Penyebaran Penyakit

curah-hujan

Sawit Notif – Tanaman sawit tentu membutuhkan curah hujan yang cukup dan merata sepanjang tahun. Oleh sebab itu, petani perlu memperhatikan beberapa informasi mengenai curah hujan kelapa sawit. Idealnya sawit dapat tumbuh optimal dengan curah hujan tahunan 2.000-2.500 mm.

Pengaruh curah hujan sangatlah berkaitan dengan produktivitas tanaman sawit. Curah hujan yang memadai bisa membantu menjaga ketersediaan air tanah dan menunjang pertumbuhan vegetatif. Sebaliknya, curah hujan yang tinggi dapat menimbulkan berbagai permasalahan.

Dampak Curah Hujan Tinggi

Standar curah hujan kelapa sawit menjadi faktor primer yang menentukan potensi perkebunan. Sawit tetap bisa tumbuh pada curah hujan tinggi. Hanya saja, pertumbuhannya tidak akan maksimal.

Kondisi hujan berlebih sering menimbulkan berbagai kendala. Meski tanaman sawit tetap hidup dan berkembang, pertumbuhannya tidak akan maksimal. Potensi produksi yang seharusnya bisa dicapai menjadi berkurang.

1. Genangan Air

Kebutuhan curah hujan kelapa sawit sudah memiliki standar tersendiri. Curah hujan yang tinggi dan berlangsung terus-menerus dapat mengakibatkan genangan air di area perkebunan. Terutama pada lahan yang memiliki sistem drainase buruk.

Apabila curah hujan melebihi standar, tanah menjadi jenuh air dan daya dukungnya terhadap tanaman ikut menurun. Genangan air yang timbul berdampak langsung pada sistem perakaran kelapa sawit.

Kondisi tanah yang tergenang air menyebabkan akar tanaman mengalami stres, bahkan membusuk. Oleh karena itu, petani sawit perlu membangun saluran drainase yang baik. Utamanya pada lahan perkebunan dengan curah hujan tinggi.

2. Hilangnya Nutrisi Akibat Pencucian (Leaching)

Pengaruh curah hujan terhadap produksi kelapa sawit tidak bisa dianggap hal yang sepele. Curah hujan yang berlebihan dapat menyebabkan hilangnya nutrisi tanah akibat pencucian (leaching), terutama unsur hara yang mudah larut.

Meliputi nitrogen, kalium, dan magnesium. Air hujan yang meresap ke dalam tanah akan membawa unsur-unsur hara tersebut ke lapisan tanah yang lebih dalam. Akibatnya, akar kelapa sawit tidak mampu lagi untuk menjangkaunya.

Tidak boleh tertinggal, curah hujan kelapa sawit untuk pemupukan juga tidak boleh dilupakan begitu saja. Dalam kondisi curah hujan tinggi, petani perlu menerapkan strategi pemupukan yang sesuai. Sebaiknya, pemupukan dilakukan saat curah hujan sedang dan tidak ekstrem.

3. Peningkatan Kelembapan yang Memicu Ledakan Penyakit Jamur

Curah hujan kelapa sawit yang ideal tidak akan menimbulkan ledakan penyakit akibat pertumbuhan jamur. Pada dasarnya, pertumbuhan kelapa sawit sangat dipengaruhi oleh intensitas hujan dan pemenuhan sinar matahari yang optimal.

Kelembapan berlebih akibat curah hujan tinggi menciptakan lingkungan yang ideal bagi pertumbuhan patogen, khususnya jamur penyebab penyakit tanaman. Salah satu yang perlu diwaspadai yakni bahaya jamur Ganoderma.

Dampak serangan jamur tidak hanya menurunkan produksi, tetapi juga menyebabkan kematian tanaman. Permasalahan ini tentu saja merugikan petani sawit secara ekonomi. Untuk meminimalisirnya, petani perlu melakukan pengelolaan drainase dengan baik.

4. Penurunan Produksi Tandan Buah Segar (TBS)

Tingkat curah hujan yang tinggi sering kali menyebabkan penurunan produksi tandan buah segar (TBS). Hal ini dapat terjadi karena berkurangnya intensitas cahaya matahari selama proses fotosintesis. Akibatnya, pembentukan bunga dan buah pun ikut terhambat.

Selain itu, pengaruh curah hujan terhadap produksi kelapa sawit juga terlihat pada proses penyerbukan. Hujan terus-menerus dapat menghambat aktivitas serangga penyerbuk, sehingga pembentukan buah menjadi tidak sempurna dan jumlah TBS menurun.

Berbeda halnya ketika area perkebunan memperoleh curah hujan kelapa sawit yang optimal. Dampaknya tidak akan menimbulkan masalah yang serius. Tanaman akan memiliki produktivitas yang tinggi jika memperoleh distribusi hujan secara merata.

5. Menghambat Kegiatan Operasional Kebun

Kondisi curah hujan tinggi bisa lebih serius jika petani mengembangkan budidaya kelapa sawit di lahan gambut. Pada dasarnya, lahan gambut sangat sensitif terhadap kelebihan air. Untuk itu, petani sawit perlu mempelajari manajemen pengelolaan air dengan baik.

Curah hujan ideal untuk kelapa sawit ada di kisaran 2.000-2.500 mm per tahun. Jika melebihi angka tersebut, kegiatan operasional kebun akan terhambat. Mulai dari proses panen, pemupukan, hingga pengangkutan hasil.

Jalan kebun akan berubah menjadi licin dan rusak, sehingga kendaraan pengangkut TBS sulit beroperasi. Keterlambatan panen akibat hujan bisa membuat buah terlalu matang atau rusak. Pada akhirnya, kualitas minyak sawit ikut menurun.

Korelasi antara Kelembapan Tinggi dan Meningkatnya Kasus Jamur Ganoderma pada Kelapa Sawit

Kelembapan tinggi menjadi salah satu faktor lingkungan yang sangat mempengaruhi perkembangan penyakit pada tanaman sawit. Terlebih penyakit yang disebabkan oleh serangan jamur Ganoderma.

Tingkat kelembapan yang tinggi menciptakan kondisi ideal bagi pertumbuhan dan penyebaran jamur Ganoderma. Lingkungan yang lembap dapat memperpanjang daya hidup miselium jamur.

Pada kondisi lembap, spora jamur lebih mudah berkembang dan menginfeksi jaringan tanaman melalui akar atau luka batang. Oleh sebab itu, serangan Ganoderma sering kali parah di lahan dengan curah hujan tinggi.

Sejatinya, syarat tumbuh kelapa sawit membutuhkan curah hujan yang seimbang. Jika mengalami serangan jamur akibat tingginya curah hujan, petani dapat memanfaatkan pengendali Ganoderma dari PKT.

Kualitas produk dari PKT sudah tidak diragukan lagi efektivitasnya. Upaya pengendalian penyakit yang cepat akan membantu menekan perkembangan jamur dan menjaga keberlangsungan produksi kelapa sawit.

Ingin Meningkatkan Produksi Tanaman Sawit?

Curah hujan kelapa sawit sangatlah menentukan tingkat produktivitasnya. Distribusi yang kurang merata dan tingginya curah hujan kerap menimbulkan dampak negatif bagi tanaman kelapa sawit di perkebunan.

Untuk memperoleh informasi lebih dalam mengenai strategi peningkatan produksi tanaman sawit, Anda dapat menghubungi nomor 0821-2000-6888. Selain itu, kunjungi pula laman resmi https://pkt-group.com/ dan temukan beberapa informasi bermanfaat lainnya.

FAQ

Berapa Curah Hujan untuk Kelapa Sawit?

Syarat curah hujan kelapa sawit yang ideal ada di kisaran 2.000-2.500 mm per tahun. Pada dasarnya, tanaman sawit sangat sensitif terhadap kekeringan maupun kelembapan berlebih. Ketersediaan air yang cukup sangat membantu pertumbuhan sawit secara optimal.

Curah Hujan 1 mm Artinya?

Singkatnya, curah hujan 1 mm berarti air yang turun setara dengan lapisan setinggi 1 milimeter (menutupi permukaan tanah secara merata). Satuan tersebut dipakai untuk mengukur intensitas hujan.

Curah Hujan yang Cocok untuk Pertanian?

Secara garis besar, curah hujan yang cocok untuk pertanian berkisar antara 1.500 sampai 3.000 mm per tahun, tergantung jenis tanaman. Selain memperhatikan curah hujan, pola dan distribusi hujan juga patut diperhatikan.

Curah Hujan yang Normal Berapa?

Normal atau tidaknya curah hujan sangatlah bergantung dengan wilayah dan kondisi iklim setempat. Di wilayah tropis seperti Indonesia, curah hujan tahunan ada di angka 2.000-3.000 mm per tahun. Curah hujan dianggap normal jika tidak menimbulkan genangan berlebih. (SD)(AD)