Harga TBS Sawit di Sumatera Utara Bervariasi, Tertinggi Capai Rp2.960 per Kg

harga-TBS

Sawit Notif – Harga Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit di berbagai kabupaten dan kota di Provinsi Sumatera Utara pada Rabu, 21-27 Januari 2026, menunjukkan perbedaan antarwilayah. Berdasarkan data harga harian, nilai jual TBS berada pada kisaran Rp2.700 hingga Rp2.960 per kilogram.

Dilansir dari sawitsetara.co, Harga tertinggi tercatat di Kabupaten Padang Lawas (Palas) yang mencapai Rp2.960 per kilogram. Sebaliknya, Kabupaten Pakpak Bharat menjadi daerah dengan harga TBS terendah, yakni Rp2.700 per kilogram.

Secara rinci, harga TBS di Kabupaten Langkat berada di level Rp2.850 per kilogram, Deli Serdang Rp2.800 per kilogram, Serdang Bedagai Rp2.875 per kilogram, Simalungun Rp2.720 per kilogram, dan Batu Bara Rp2.735 per kilogram.

Selanjutnya, Kabupaten Asahan dan Labuhanbatu Utara (Labura) masing-masing mencatat harga Rp2.710 per kilogram. Kabupaten Labuhanbatu berada di angka Rp2.730 per kilogram, sedangkan Labuhanbatu Selatan (Labusel) mencapai Rp2.740 per kilogram.

Untuk wilayah lainnya, Kabupaten Padang Lawas Utara (Paluta) mencatat harga Rp2.750 per kilogram, Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel) Rp2.845 per kilogram, Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng) Rp2.790 per kilogram, serta Kabupaten Mandailing Natal (Madina) Rp2.905 per kilogram.

Secara umum, harga rata-rata TBS kelapa sawit di Sumatera Utara pada hari tersebut berada pada rentang Rp2.700 hingga Rp2.905 per kilogram. Variasi harga antarwilayah ini dipengaruhi oleh sejumlah faktor, seperti jarak kebun ke pabrik pengolahan, mutu buah sawit, serta kondisi pasokan dan permintaan di masing-masing daerah.

Sebagai penutup, dinamika harga TBS kelapa sawit di Sumatera Utara tidak hanya ditentukan oleh faktor pasar, tetapi juga sangat berkaitan dengan kondisi kebun di lapangan. Tantangan seperti serangan Ganoderma sawit, risiko patah sawit akibat cuaca ekstrem, serta kualitas perawatan sawit yang diterapkan petani dan perusahaan perkebunan turut memengaruhi produktivitas dan mutu buah. Oleh karena itu, upaya menjaga kesehatan tanaman melalui perawatan yang berkelanjutan menjadi kunci penting agar produksi tetap optimal dan petani dapat memperoleh harga TBS yang lebih kompetitif di tengah fluktuasi pasar. (SD)(AD)